Minggu, 28 Oktober 2012

Krisis Moneter 1997 di Indonesia. Mengapa?


Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi yang berdampak buruk pada Negara dan rakyatnya. Krisis ini terjadi dari awal tahun 1998. Sejak masa orde baru mulai terlihat kondisi Indonesia terus mengalami kemerosotan, terutama dalam bidang ekonomi. Tingginya krisis ekonomi ini disebabkan dengan laju inflasi yang cukup tinggi. Sebagai dampak inflasi, terjadi penurunan tabungan, berkurangnya investasi, semakin banyak modal yang dilarikan keluar negeri, serta terhambatnya pertumbuhan ekonomi.
Inflasi Rupiah dan peningkatan besar harga bahan makanan menimbulkan kekacauan di Negara Indonesia. Pada tahun 1998 Presiden Soeharto memecat Gubernur Bank Indonesia, tapi ini tidak cukup berjalan baik. Soeharto dipaksa mundur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia pada pertengahan 1998 setelah sebelumnya terjadi kerusuhan. Hal ini yang membuat puncak krisis ekonomi moneter yang terjadi pada Negeri dengan jutaan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini. Mundurnya rezim Soeharto diperkirakan dapat meredakan krisis moneter, akan tetapi setelah mundurnya Presiden Soeharto bukan menjadi perkiraan yang baik dalam hal redanya krisis yang terjadi bahkan tidak berhasil sama sekali.
Pada saat terjadinya krisis moneter tahun 1998 Rupiah masih berada dalam 11000 per Dollar Amerika. Kecenderungan melemahnya Rupiah semakin menjadi ketika terjadi penembakan mahasiswa Trisakti pada tanggal 14 Mei 1998. Kurs Rupiah terjun bebas mencapai 17000 per Dollar Amerika bahkan hal ini dinilai kurs yang paling rendah dalam sejarah Indonesia ketika mengalami krisis.


Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Perekonomian Indonesia

Krisis moneter memiki dampak yang tidak baik terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini disebabkan nilai tukar kurs valuta asing khususnya Dollar Amerika yang melambung tinggi jika dihadapkan dengan pendapatan tetap masyarakat dalam Rupiah. Dengan masalah yang terjadi banyak perusahaan yang terpaksa memberhentikan pekerjanya dengan alasan tidak dapat membayar upah para pekerja. Sehingga menambah angka pengangguran di Indonesia. Pemerintah kesulitan menutup APBN. Harga barang naik cukup tinggi, yang menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan barang-barang kebutuhan pokoknya. Utang luar negeri dalam Rupiah melonjak, sehingga harga Bahan Bakar Minyak naik.
Kemiskinan juga termasuk dari sekian banyaknya dampak yang ditimbulkan oleh krsisis moneter 1998. Pada Oktober 1998 jumlah keluarga miskin di Indonesia diperkirakan sekitar 7,5 juta penduduk. Meningkatnya jumlah penduduk yang miskin tidak terlepas dari jatuhnya nilai mata uang Rupiah yang tajam, yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berkurang akibat PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena tingkat inflasi yang tinggi.
Saat krisis moneter terjadi banyak pejabat yang melakukan korupsi sehingga mengurangi pendapatan para pekerja yang lain. Banyak perusahaan yang meminjam uang kepada perusahaan Negara asing dengan tingkat bunga yang lumayan tinggi, hal itu menambah beban utang negara. Pada sisi lain merosotnya nilai tukar Rupiah juga memiliki dampak positif. Secara umum impor barang dari luar negeri ke Indonesia menurun tajam. Sebaliknya arus masuk turis asing akan lebih besar, daya saing produk dalam negeri dengan tingkat kandungan impor rendah meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang ekspor khususnya yang berbasis pertanian. Dampak krisis moneter di Indonesia lebih baik yang negatif dibandingkan dengan yang positif. Karena krisis ini mengganggu kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, keuangan Islam datang sebagai sebagai solusi untuk mengatasi dampak krisis yang ada di Dunia. 

www.bi.go.id


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar